Secara umum, pengertian titrasi asam basa ialah pengukuran larutan sebuah reaktan agar bisa bereaksi sempurna dengan bahan reaktan lainnya. Dalam bidang kimia, biasanya seorang laboran kerap mencampurkan cairan kimia tertentu untuk mengetahui tingkat keasaman suatu larutan. Hal ini kemudian memunculkan titrasi asam basa. Nantinya, titrasi akan menghasilkan pembagian pH dengan menggunakan rumus dan indikator tertentu. Di sini, akan dibahas lebih dalam soal pengertian titrasi asam basa, rumus, dan indikatornya!
Pembagian pH titrasi asam basa
Ketika larutan basa diberi larutan asam, maka hasilnya pH larutan akan turun. Hal sebaliknya akan terjadi bila larutan asam ditetesi larutan basa, hasilnya pH-nya justru akan naik. Pembagian tersebut terbagi dalam tiga tingkatan.
• Titrasi asam kuat dan basa kuat
Pada titrasi ini, bisa dicontohkan dari proses titrasi 40 ml larutan HCL 0.1 M yang ditetesi menggunakan larutan NaOH 0.1 M secara perlahan. Untuk indikatornya menggunakan bromtimol biru, metil merah, maupun fenolftalein.
• Titrasi asam yang lemah dengan basa kuat
Titrasi ini contohnya adalah titrasi 40 ml larutan CH3COOH 0.1 M yang ditetesi menggunakan larutan NaOH 0.1 M secara perlahan. Sedangkan untuk indikator yang digunakan adalah fenolftalein.
• Titrasi basa yang lemah dengan asam yang kuat
Berikutnya adalah titrasi yang melibatkan basa lemah dengan asam kuat, yakni titrasi 40 ml larutan NH30.1 M yang ditetesi menggunakan larutan HCL 0.1 M secara perlahan. Untuk indikator yang digunakan adalah fenolftalein.
Bagaimana rumus titrasi asam basa?
Setelah mengetahui pengertian titrasi asam basa, kini Anda pun perlu mengetahui rumusnya yang diperoleh dengan memperhatikan dari titik ekuivalen dan non-ekuivalen. Dari sini, terdapat tiga jenis rumus yang berbeda dan sering digunakan, yakni:
• Mol – Ekuivalen Asam = Mol – Ekivalen Basa, adapun mol-ekuivalen didapatkan atas hasil perkalian dari normalitas dengan volume. Kemudian, akan menghasilkan rumus lain.
• NxV asam = NxV basa, normalitas yang didapat dari perkalian molaritas yang dilambangkan dengan “M” dan jumlah ion H + asam maupun jumlah ion OH yang terdapat pada asam basa dan menghasilkan rumus NxV asam = NxV basa.
Apa saja indikator dari asam basa?
Titrasi asam basa memiliki indikator tersendiri. Indikator ini untuk melihat apakah asam basa bersifat lemah atau memiliki asam basa kuat. Di sini, untuk asam basa indikatornya adalah asam lemah yang memiliki larutan warna molekul dan warna ion yang berbeda.
Kemudian, zat indikator yang berupa asam maupun larut atau pun stabil akan memiliki perubahan warna yang sangat kuat. Indikator asam basa biasanya terdapat di titik ekuivalen dan juga pada ukuran pH. Adapun beberapa indikator asam basa adalah sebagai berikut:
1. Timol biru, memiliki perubahan warna asam merah dan perubahan basa berwarna kuning dengan bahan pelarut berupa air.
2. Metil kuning, memiliki perubahan warna asam merah dan perubahan basa berwarna kuning dengan bahan pelarut berupa etanol 90%.
3. Metil jingga, memiliki perubahan warna asam merah dan perubahan basa berwarna kuning-jingga dengan bahan pelarut berupa air.
4. Metil merah, memiliki perubahan warna asam merah dan perubahan basa berwarna kuning dengan bahan pelarut berupa air.
5. Bromtimol biru, memiliki perubahan warna asam kuning dan perubahan basa berwarna biru dengan bahan pelarut berupa air.
6. Fenolftalein, memiliki perubahan warna asam yang tidak berwarna dan perubahan basa berwarna merah-ungu dengan bahan pelarut berupa etanol 70%.
7. Timolftalein, memiliki perubahan warna asam tak berwarna dan perubahan basa berwarna biru dengan bahan pelarut berupa etanol 90%.
Melakukan titrasi pada asam basa
Melakukan titrasi tidak bisa dilakukan secara sembarangan dan perlu perhitungan yang cermat agar mendapatkan hasil terbaik. Oleh karena itu, ada beberapa langkah yang wajib Anda perhatikan, yaitu:
1. Larutan baku yang dikenal dengan zat penitrasi atau titran dimasukkan pada buret yang sudah ditera sebelumnya dengan ukuran tertentu.
2. Zat yang akan dititrasi tersebut kemudian diletakkan di sebuah wadah khusus, baik itu gelas kimia maupun erlenmeyer, dan berada di bawah buret yang diisi zat penitrasi.
3. Lalu, tambahkanlah indikator yang tepat dengan titrat. Biasanya yang digunakan adalah indikator fenolftalein.
4. Rangkailah alat titrasi dengan cermat dan baik. Dalam kondisi ini, buret ditempatkan berdiri tegak. Kemudian, wadah titrat berada di ujung buret. Tempatkanlah selembar kertas putih maupun menggunakan tisu berwarna putih pada wadah titrat.
5. Terakhir, aturlah titrat perlahan-lahan sampai larut pada gelas kimia dan tunggu hingga warnanya berubah.
Untuk mendapatkan hasil terbaik dalam titrasi, diperlukan peralatan laboratorium yang mumpuni dan modern, serta memiliki fitur terbaik. Salah satunya adalah produk alat-alat laboratorium berkualitas dari PT Mettler Toledo Indonesia. Itulah pengertian titrasi asam basa yang bisa Anda pelajari, semoga bermanfaat!