Loading... 0%

titrasi redoks
Titrator

Mengenal Titrasi Redoks

Ditulis Oleh: Hyprowira | Diterbitkan pada 19 May 2021 | Dimodifikasi terakhir pada 19 May 2021

Apa itu titrasi redoks? Titrasi redoks merupakan metode analisa reaksi reduksi dan oksidasi yang terjadi antara titran (zat yang konsentrasinya sudah diketahui) dan titrat (zat yang konsentrasinya akan diungkap melalui titrasi). Berbeda dengan titrasi asam basa, titrasi kompleksometri, maupun titrasi pengendapan, Anda perlu mengetahui seluk beluk dari titrasi redoks yang sudah diaplikasikan dalam berbagai industri. Berikut penjelasan selengkapnya.

Prinsip dari Titrasi Redoks

Titrasi redoks merupakan kependekan dari titrasi reduksi dan oksidasi. Reduksi adalah proses pengambilan elektron dalam sebuah atom, ion, maupun molekul. Sebaliknya, oksidasi adalah proses pembebasan elektron dari sebuah atom, ion, atau molekul. Faktanya, oksidasi selalu dilanjutkan dengan reduksi, sehingga terjadilah reaksi redoks. 

Dalam reaksi redoks, jumlah elektron yang dibebaskan selalu sama dengan jumlah elektron yang diambil. Bila dibandingkan dengan reaksi asam basa, konsepnya cukup mirip di mana jumlah proton yang dibebaskan oleh asam selalu sama dengan jumlah proton yang diambil oleh basa. Titrasi redoks terjadi saat ada perpindahan elektron di antara titran dan titrat. Karena reaksi redoks umumnya terjadi di dalam air, maka diperlukan penyetaraan koefisien terhadap reaksi air menggunakan H+ atau OH-. 

Reaksi redoks baru bisa dijadikan sebagai dasar titrasi apabila sudah memenuhi persyaratan berikut ini:

1. Reaksi redoks harus berlangsung secara cepat dan nyaris sempurna (kesuksesan <99% tidak bisa ditolerir).

2. Titik akhir harus bisa diukur atau dideteksi, baik itu dengan menggunakan indikator warna maupun potensiometri.

3. Proses terjadinya pertukaran elektron harus bersifat stoikiometri, artinya pasangan sistem redoks (oksidator dan reduktor) sudah sesuai dan setara.

Baca juga: Pengertian, Cara Kerja, dan Jenis Titrasi Asam Basa

Jenis Titrasi Redoks

Dalam pelaksanaannya, titrasi redoks dilakukan melakukan analisis kuantitatif terhadap reaksi antara senyawa yang sifatnya oksidator dan senyawa yang sifatnya reduktor. Karena itu, titrasi redoks juga dibagi dalam beberapa jenis berdasarkan sifat larutan bakunya, yaitu oksidimetri dan reduksimetri. Berikut penjelasannya.

1. Permanganometri

Sesuai namanya, jenis titrasi redoks ini menggunakan kalium permanganat (KMnO4) sebagai titran dan oksidator. Untuk permanganometri, Anda bisa menggunakan asam seperti H2SO4 yang encer atau HClO4 namun Cl- berpotensi teroksidasi dan kestabilannya pun terbatas. Bila menggunakan larutan tidak berwarna, titrasi permanganometri tidak membutuhkan indikator karena setetes 0,1 N permanganat menunjukkan warna pink keunguan dalam 100 ml larutan.

2. Dikromatometri

Dikromatometri menggunakan dikromat (Cr2O7) yang merupakan oksidator yang kuat, namun masih berada di bawah permanganat. Dalam prosesnya, ion dikromat kemudian tereduksi menjadi Cr3+ yang memiliki warna hijau. Dikromat dipilih karena kestabilan yang baik dan bentuknya yang murni. Sayangnya, dikromat memiliki reaksi yang cukup lambat.

3. Iodometri dan iodimetri

Titrasi Iodometri dan iodimetri merupakan titrasi redoks yang menggunakan iodium. Iodometri adalah titrasi tidak langsung yang menggunakan iodium sebagai reduktor, di mana iodium yang dilepas akan dititrasi menggunakan larutan tiosulfat. Sementara itu, iodimetri adalah titrasi langsung yang dilakukan dalam kondisi pH netral atau sedikit asam, di mana iodium digunakan sebagai oksidator.

4. Bromatometri

Bromatometri menggunakan potasium bromat (KBrO3) sebagai reduktor dan titran. Untuk mempercepat terjadinya reaksi, biasanya bromatometri dilakukan dalam suhu yang panas dan kondisi pH asam. Kelebihan KBr akan memunculkan reaksi pada ion bromat yang kemudian menghasilkan warna kuning pucat yang sulit untuk ditetapkan sebagai titik akhir. 

Baca juga: Pengertian Titrasi Potensiometri Beserta Fungsinya

Aplikasi Titrasi Redoks

Pastinya Anda ingin tahu dalam kondisi atau keperluan apa titrasi redoks dilakukan di laboratorium. Sebenarnya, titrasi redoks umum dilakukan untuk uji karbohidrat, uji vitamin C, uji winkler, dan titrasi Karl Fischer. Secara jelas, berikut ini sejumlah pengaplikasian titrasi redoks untuk sejumlah industri di sekitar kita:
Dalam industri farmasi, titrasi redoks dilakukan untuk menganalisis jumlah kandungan vitamin C dalam sebuah sampel obat. Ini dikarenakan vitamin C merupakan pereduksi yang baik. 
Dalam industri minuman beralkohol, titrasi redoks dilakukan untuk menganalisis kadar sulfat dalam wine menggunakan iodin. Titrasi redoks juga bisa menentukan kadar alkohol dalam minuman dengan menggunakan kalium dikromat. 
Dalam industri pangan, titrasi redoks bisa digunakan untuk melihat kualitas minyak jelantah, yakni dengan melihat kadar peroksida. 

Itu dia informasi penting terkait titrasi redoks yang bisa Anda pelajari. Bila bisnis Anda ingin melakukan titrasi redoks demi pengadaan produk atau quality control, pastikan Anda sudah memiliki alat titrasi berkualitas yang mampu memberikan kemudahan dan keakuratan. Semoga informasi mengenai titrasi redoks di atas cukup bermanfaat!

Baca juga: Cara Titrasi Karl Fischer yang Harus Anda Pahami

86820x dilihat

Artikel Lain

Apa Itu yang Dimaksud dengan Titrasi
titrasi iodometri
Titrasi Potensiometri
titrasi kompleksometri
Pengertian, Cara Kerja, dan Jenis Titrasi Asam Basa

Kami senang mendengar dari anda!

Hubungi kami melalui formulir dibawah :

Nama *
Perusahaan *
Email *
Nomor HP
Pesan *