titrasi iodometri
Titrator

Seluk Beluk Titrasi Iodometri

Ditulis Oleh: Hyprowira | Diterbitkan pada 19 May 2021 | Dimodifikasi terakhir pada 19 May 2021

Titrasi secara umum dibagi dalam beberapa jenis metode, salah satunya adalah titrasi iodometri ini. Jenis titrasi inipun sebenarnya merupakan sebuah turunan dari titrasi redoks. Titrasi redoks adalah metode titrasi yang berproses dengan menggunakan reaksi redoks seperti namanya yang kemudian dibagi lagi menjadi tiga jenis, salah satunya adalah titrasi iodometri yang akan dibahas dalam artikel kali ini. 

Selain iodometri, ada dua jenis titrasi redoks lainnya adalah metode I2 atau titrasi tidak langsung dan yang ketiga adalah titrasi permanganometri. Sekarang, mari kita lihat lebih jauh seluk beluk titrasi iodometri. 

Seluk beluk iodometri dimulai dari pemahamannya. Lalu, dilanjutkan dengan fungsi dari metode titrasi yang satu ini. Berikutnya Anda juga akan diberitahu soal prinsip dasar serta cara kerja dari iodometri. Berikut ulasan selengkapnya

Apa Itu Titrasi Iodometri

Titrasi iodometri seperti sudah disebutkan di atas adalah metode titrasi yang juga terjadi reaksi redoks. Lebih tepatnya saat yodium dasar muncul atau menghilang saat proses titrasi sudah selesai atau mencapai titik akhir. Metode ini memakai analisis kimia volumetri. Yodium tersebut nantinya akan dibebaskan dengan adanya reaksi dengan analit/titrat.

Proses titrasi ini akan menggunakan natrium tiosulfat (Na2S2O3). Natrium tiosulfat ini juga dikenal sebagai zat pereduksi untuk mentitrasi yodium itu tadi. Dari proses ini, Anda bisa mengetahui konsentrasi zat pengoksidasi yang terkandung di dalam larutan yang diuji. Natrium tiosulfat ini digunakan sebagai indikator dikarenakan kemampuan menyerap I2 yang tinggi.

Fungsi Titrasi Iodometri

Bagi Anda yang masih asing dengan metode titrasi redoks yang satu ini pasti bertanya-tanya. Bertanya sebenarnya apa fungsi dari titrasi iodometri itu sendiri. Iodometri umumnya akan Anda temukan paling banyak digunakan pada bidang farmasi. Dalam bidang farmasi, proses titrasi ini dimanfaatkan untuk mengetahui kadar serta kualitas kandungan suatu zat itu sendiri sebelum diproses menjadi obat-obatan.

Titrasi ini biasanya tidak dilakukan sebagai metode tunggal. Iodometri biasanya akan dipasangkan atau diikuti oleh metode pengukuran lainnya. Salah satunya yang paling sering digunakan adalah titrasi potensiometri. Tujuannya untuk proses validasi dan menjaga akurasi pengukuran kadar zat itu sendiri demi mencegah kesalahan yang jelas tidak boleh sampai terjadi terutama di bidang farmasi.

Baca juga: Pengertian, Cara Kerja, dan Jenis Titrasi Asam Basa

Prinsip Iodometri

Ringkasnya, titrasi redoks bekerja dengan berdasar pada proses pemindahan dari elektron analit juga titran. Jika suatu senyawa mudah direduksi alias dapat dipakai sebagai zat pengoksidasi yang kuat, biasanya nilai positifnya pun tinggi untuk direduksi. Senyawa ini juga bisa menghilangkan elektron dari zat-zat yang potensi direduksinya lebih rendah.

Perbedaan inilah yang akan mempengaruhi proses pemindahan elektron itu tadi. Jadi, titrasi iodometri ini akan melihat saat zat dengan sifat reduksi tinggi mengoksidasi zat dengan sifat reduksi lebih rendah. Selisihnya akan menunjukkan kadar zat itu sendiri dalam proses titrasi yang memakai metode ini

Cara Kerja Iodometri

Untuk menerapkan metode titrasi iodometri ini, Anda perlu memakai atau mencari bahan yang punya sifat oksidator. Sifat oksidator ini berarti dapat atau mampu menghilangkan elektron yang dimiliki oleh senyawa lain. Dengan kata lain, mampu melakukan reduksi sesuai dengan prinsip dasar yang sudah dijelaskan di poin sebelumnya.

Bahan yang bersifat oksidator ini nantinya akan dilarutkan dengan pelarut. Berikutnya yang dilakukan adalah larutan tersebut akan diasamkan. Anda bisa memilih larutan akan diasamkan menggunakan asam klorida, asam asetat, atau asam sulfat. Setelah itu, tambahkan juga klorin. Campuran larutan ini perlu didiamkan selama beberapa menit di tempat gelap.

Proses yang terjadi kemudian adalah iodida akan dibebaskan lalu dititrasi dengan natrium tiosulfat. Natrium tiosulfat ini akan menjadi reduktor begitu larutan berubah warna jadi kuning dan jadi lebih encer. Berikutnya akan ditambahkan juga amilum lalu dititrasi lanjutan hingga warna larutan menjadi bening.

Cara kerja metode titrasi yang satu ini juga perlu penunjang lainnya yang harus diperhatikan, yakni kelengkapan bahan-bahan yang sudah disebutkan tadi, serta alat titrasi yang nantinya akan dipakai. Jika belum terlalu ahli melakukan titrasi, jangan ragu untuk mencari atau ditemani seorang tenaga ahli. Begitu kira-kira seluk beluk titrasi iodometri yang bisa Anda ketahui dalam artikel ini.

Baca juga: Cara Titrasi Karl Fischer yang Harus Anda Pahami

22473x dilihat