Chloracne
PCBs di Minyak Trafo

Polychlorinated Biphenyls: Material Super yang Menjadi Bencana Global!

Ditulis Oleh: Rio Deswandi, PhD | Diterbitkan pada 22 September 2021 | Dimodifikasi terakhir pada 22 September 2021

Selama lebih dari 40 tahun penggunaan minyak dielektrik Polychlorinated Biphenyls (PCBs) telah menjadi prasyarat standar keamanan pada gedung dan bangunan yang memiliki resiko tinggi dimana resiko kebakaran dan ledakan menjadi perhatian yang utama. Transformator dan kapasitor yang diproduksi dengan menggunakan PCBs dipergunakan pada fasilitas-fasilitas publik seperti sekolah dan rumah sakit serta lokasi industri yang memerlukan perlindungan optimal dari resiko kebakaran alat, misalnya pada tambang bawah tanah, sistem jalur kereta api dan instalasi militer. Apabila penggunaan PCBs pada transformator sangat bermanfaat dan dapat mencegah resiko kebakaran pada alat, kenapa produksi dan penggunaan PCBs akhirnya dilarang di Amerika dan di seluruh dunia?

PELARANGAN PCBs DAN TRAGEDI DI BALIKNYA


Pada tahun 1930 Public Health Service Amerika Serikat mulai menampung keluhan-keluhan dari para pekerja, dimana sebagian besar dari mereka mengalami timbulan jerawat hitam yang cukup masif, yang kemudian disebut sebagai chloracne. Dokumentasi yang cukup lengkap mengenai sejarah perkembangan produksi dan penggunaan PCBs termasuk kasus-kasus kontroversial kesehatan dan lingkungan yang disebabkan oleh PCBs dapat ditemukan pada publikasi yang disusun oleh Markowitz (2018) dan Markowitz dan Rosner (2018). 

Kecurigaan mengenai dampak negatif PCBs terhadap kesehatan telah muncul bahkan pada awal periode produksi masal yang dimulai oleh Swann Chemical Company. Para pekerja yang secara langsung terlibat pada produksi Aroclors (salah satu merek dagang/nama produk PCBs) mengalami penyakit kulit yang disebut chloracne, yaitu benjolan-benjolan dengan permukaan menghitam di permukaan kulit. Pada tahun 1933, penyelidikan dilakukan dengan melibatkan pakar Dr. Frederick Flinn dari Universitas Columbia, Amerika Serikat. Tujuan penyelidikan adalah “apakah ragam senyawa chlorinated diphenyls yang dihasilkan atau pengotor yang terdapat di dalamnya mungkin menjadi penyebab (causative agent) penyakit kulit (dermatitis) yang menimpa beberapa pekerja di pabrik”? Flinn menduga penyakit kulit tersebut disebabkan oleh styrene dan oleh karena itu para pekerja diharuskan mandi atau melakukan pembilasan dalam hal terjadi kontak dengan material tersebut. 

 

Chloracne

Pada tahun 1944, Public Health Reports menerbitkan hasil kajian terhadap marmut, kelinci dan tikus yang dipaparkan senyawa PCBs. Kajian tersebut mencatat bahwa “dua temuan patologis teramati dengan jelas, yaitu kerusakan organ hati pada semua percobaan dan perubahan kulit pada hewan yang mendapatkan suntikan ataupun yang mendapatkan perlakuan langsung pada kulit”. Kerusakan hati juga ditemukan pada hewan yang diberi pakan bercampur PCBs selama periode 30 hingga 90 hari.

Tahun 1955 mencatat lebih banyak laporan terkait pengguna PCBs yang menderita sakit setelah terpapar senyawa tersebut. Di antara kasus tersebut adalah yang tercatat pada arsip Monsanto, yaitu yang mencatat kasus kebocoran Aroclors sebagai pendingin (heat-exchange fluids). Pada salah satu kasus “tiga orang menderita kerusakan organ hati setelah satu minggu terpapar PCBs”. Namun, kasus yang paling menggemparkan dunia adalah yang menimpa masyarakat di Kyushu, bagian barat Jepang pada tahun 1968. 

Menurut Kuratsune (2001), fenomena yang pada awalnya dikenal sebagai “penyakit aneh” tersebut menimpa 1.800 warga Kyushu di Prefektur Fukuoka. Beberapa sumber lain menyebut total jumlah korban mencapai 14.000 jiwa (Suzuki & Kobayashi, 1968). Sedangkan pelacakan yang dilakukan oleh Onozuka et al (2020) selama 50 tahun dari 1968 hingga 2017 menemukan bahwa kasus yang tercatat resmi di Jepang hanyalah 2.318 jiwa. Perbedaan angka ini sangat mungkin disebabkah oleh metode pelacakan dan pencatatan yang berbeda. Onozuka et al misalnya menggunakan data resmi yang tercatat pada Kementerian Kesehatan Tenaga Kerja dan Kesejahteraan di Jepang.  Meski tidak dijelaskan secara eksplisit, angka korban yang ditulis oleh Kuratsune (2001) dan Suzuki dan Kobayashi (1968) tampaknya berasal dari data survai lapangan pada masa awal kejadian.

Setelah penyelidikan resmi oleh pemerintah, penyakit aneh ini kemudian diberi nama Yusho alias “penyakit karena minyak” (oil disease). Hasil penyelidikan resmi menyimpulkan bahwa penyebab penyakit tersebut adalah konsumsi minyak bekatul (rice bran oil) yang telah terkontaminasi oleh Kanechlor 400, yaitu produk PCBs yang diproduksi oleh Kanegafuchi Chemical Industry Co., Ltd. Penyakit Yusho ditandai dengan gejala munculnya benjolan-benjolan berbentuk jerawat di permukaan kulit, pigmentasi pada kulit, peradangan kelopak mata (konjungtivitis), peningkatan ekresi mata, dan mati rasa pada anggota tubuh (akibat gangguan syaraf ke otak). 

Tragedi 1968 ini memicu kontroversi yang luar biasa di Jepang, sehingga akhirnya produksi dan penggunaan PCBs sepenuhnya dilarang di Jepang pada tahun 1974. Namun demikian, tidak berarti permasalahan selesai sampai disana. Paparan terhadap PCBs mengakibatkan berbagai jenis kanker yang fatal. Penelusuran 50 tahun dan analisa yang dilakukan oleh Onozuka et al (2020) terhadap para pasien Yusho (1.664 pasien) menemukan bahwa tingkat kematian pada pasien Yusho (Standardized Mortality Ratio) meningkat dibandingkan tingkat kematian warga Jepang secara umum. Peningkatan tingkat kematian ini dipicu oleh kanker. Kematian pada pasien laki-laki dipicu oleh semua jenis kanker terutama kanker paru-paru. Sedangkan pada pasien perempuan, peningkatan tingkat kematian ditemukan pada penderita kanker hati. 

Kembali ke Amerika Serikat, pada tahun 1970 Monsanto mengurangi dan menghentikan penjualan produk PCBs pada aplikasi terbuka (cat, sealant, kertas carbon copy, dll) untuk mencegah apa yang mereka sebut “pencemaran lingkungan yang tidak terkendali”. Hal ini dilakukan setelah ditemukannya PCBs di lingkungan. Dalam kurun 1972 hingga 1975 Monsanto membatasi penjualan PCBs untuk aplikasi yang sepenuhnhya tertutup, hingga ditemukan produk (senyawa) pengganti yang sebanding. Hingga akhirnya Monsanto memutuskan sepenuhnya menghentikan produksi dan penjualan PCBs pada 1977 (Monsanto, nd). Namun demikian, keputusan Monsanto ini tidak terlepas dari semakin besarnya tekanan media, aktivis lingkungan dan pembuat kebijakan menyusul terkonfirmasinya kasus-kasus pencemaran dan gangguan kesehatan dari orang-orang yang terdampak PCBs (Markowitz & Rosner, 2018).

BENCANA PCBs BERUJUNG GUGATAN HUKUM

Persoalan ternyata tidak berhenti dengan Monsanto menutup pabrik dan menghentikan produksi PCBs. Sejak permulaan tahun 1970an dokumentasi-dokumentasi temuan yang tak terbantahkan mengenai pencemaran PCBs di Great Lakes, sungai-sungai di Alabama, perikanan dan produksi susu di Ohio, udang di Teluk Meksiko, populasi burung di sepanjang pantai barat Amerika hingga Sungai Hudson di New York dan banyak daerah lainnya (Markowitz & Rosner, 2018) berujung pada permulaan berbagai tuntutan hukum di berbagai negara bagian. 

Pada tahun 2003, publik di Kota Anniston Alabama memenangkan gugatan sebesar USD 700.000.000 (lebih dari Rp. 10 trilliun) atas pencemaran PCBs yang terjadi di kota mereka dan gangguan kesehatan yang diderita warganya (The Guardian, 2018). Pada tahun 2020 seorang Jaksa di Washington menuntut Bayer AG (yang mengakuisi sebuah pabrik Monsanto pada tahun 2018) membayar USD 820.000.000 (lebih dari Rp. 11 trilliun) untuk menyelesaikan pencemaran PCBs di beberapa wilayah (Johnson, 2020).  Perusahaan tersebut bahkan harus membayar USD 185.000.000 (setara Rp. 2,7 trilliun) kepada tiga orang guru sekolah di Washington yang menderita kanker otak akibat terpapar PCBs yang terdapat di gedung sekolah tempat mereka pernah mengajar (Bloomberg, 2021). General Electric Co. juga harus membayar setidaknya USD 1.600.000.000 (hampir Rp. 23 trilliun) (Mann, 2015) untuk mengeruk sekitar 3 juta kubik sedimen Sungai Hudson dari tahun 2009 hingga 2015 (EPA, 2021) sebagai konsekuensi pembuangan 650 ton PCBs pada rentang 1947 hingga 1977 (Riverkeeper, 2021). Meskipun General Electric Co. secara resmi akan menghentikan kegiatan pengerukan di Sungai Hudson, kegiatan pemantauan akan terus dilakukan. Sejak pelarangan penangkapan komersil dan konsumsi ikan dan biota Sungai Hudson pada tahun 1976 (Riverkeeper, 2021), tidak ada yang dapat menebak kapan ekosistem Sungai Hudson dan daerah disekitarnya akan benar-benar pulih dan bebas dari PCBs. Hingga saat ini, Sungai Hudson menjadi salah satu museum alami terbesar yang mendokumentasikan dan menceritakan bencana lingkungan dan bencana kemanusiaan yang disebabkan oleh PCBs.

REFERENSI

Bloomberg. 2021. https://www.bnnbloomberg.ca/monsanto-ordered-to-pay-teachers-185-million-over-pcb-exposure-1.1633595 

Environmental Protection Agency. 2021. https://www.epa.gov/hudsonriverpcbs/hudson-river-cleanup

Johnson, G. 2020. https://www.foodmanufacturing.com/safety/news/21138327/monsanto-will-pay-95m-to-settle-pcb-pollution-case

Kuratsune, M. 2001. Outlines of Yusho. In Yusho: A Human Disaster Caused by PCBs and Related Compounds. M. Kuratsune, H. Yoshimura, Y. Hori, M. Okumura dan Y. Masuda (Ed). Pp. 2 – 6. Kyushu: Kyushu University Press. https://www.kyudai-derm.org/yusho_kenkyu_e/browsing.html

Mann, T. 2015. https://www.wsj.com/articles/ge-nears-end-of-hudson-river-cleanup-1447290049#:~:text=GE%20said%20the%20cost%20was,than%201%20million%20underwater%20plants

Markowitz, G. 2018. From Industrial Toxins to Worldwide Pollutants: A Brief History of Polychlorinated Biphenyls. Public Health Report Vol. 1 (6): 721 – 725. https://journals.sagepub.com/doi/full/10.1177/0033354918801578

Markowitz, G dan D. Rosner. 2018. Monsanto, PCBs and the Creation of “World-Wide Ecological Problem”. Journal of Public Health Policy Vol 39: 463 – 540. https://link.springer.com/article/10.1057/s41271-018-0146-8

Monsanto. nd. https://www.toxicdocs.org/d/KRGjYJ9QzJyw90Z38enjNMBvX?lightbox=1

Onozuka, D., Y. Nakamura, G. Tsuji dan M. Furue. 2020. Mortality in Yusho Patients Exposed to Polychlorinated Biphenyls and Polychlorinated Dibenzofurans: a 50-year Retrospective Cohort Study. Environmental Health 19: 119 – 128. https://ehjournal.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12940-020-00680-0 

Riverkeeper. 2021. https://www.riverkeeper.org/campaigns/stop-polluters/pcbs/#

Suzuki, T dan H. Kobayashi. 1968. Contamination of Rice Bran Oil with PCB Used as Heating Medium by Leakage through Penetration Holes at the Heating Coil Tube in Deodorization Chamber. http://www.shippai.org/fkd/en/hfen/HB1056031.pdf 

The Guardian. 2018. https://www.theguardian.com/artanddesign/2018/apr/20/mathieu-asselin-monsanto-deutsche-borse-anniston-alabama

 

 

322x dilihat